FAKTOR – FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN ISPA PADA BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SIDOMULYO KABUPATEN GORONTALO TAHUN 2009

Text-only Preview

FAKTOR - FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN
KEJADIAN ISPA PADA BALITA DI WILAYAH

KERJA PUSKESMAS SIDOMULYO
KABUPATEN GORONTALO
TAHUN 2009




1


BAB I
PENDAHULUAN

A.
Latar Belakang
Pneumonia adalah proses akut yang mengenai jaringan paru-paru
(alveoli). Terjadinya Pneumonia pada balita seringkali bersamaan dengan
proses infeksi akut bronkus (Broncho Pneumonia). Gejala penyakit ini
berupa nafas cepat dan nafas sesak, karena paru meradang secara mendadak.
Batas nafas cepat adalah frekuensi pernafasan sebanyak 50 kali permenit
atau lebih pada anak usia 2 buan sampai kurang dari 1 tahun, dan 40 kali
permenit atau lebih pada anak usia 1 tahun sampai kurang dari 5 tahun.
Pada anak usia dibawah 2 bulan, tidak dikenal diagnosis Pneumonia.(Afifah
Tin,dkk.,2003.)
Program pemberantasan ISPA secara khusus telah dimulai sejak
tahun 1984, dengan tujuan berupaya untuk menurunkan angka kesakitan dan
kematian khususnya pada bayi dan anak balita yang disebabkan oleh ISPA.
Usaha peningkatan kesehatan masyarakat pada kenyataannya
tidaklah mudah seperti membalikkan telapak tangan saja, karena masalah
ini sangatlah kompleks, di mana penyakit yang terbanyak di derita oleh
masyarakat terutama pada yang paling rawan yaitu ibu dan anak, ibu hamil
dan ibu meneteki serta anak bawah lima tahun.(Arikunto,s.2006.)
Salah satu penyakit yang diderita oleh masyarakat terutama adalah
ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut) yaitu meliputi infeksi akut saluran
pernafasan bagian atas dan infeksi akut saluran pernafasan bawah. ISPA
2


adalah suatu penyakit yang terbanyak di derita oleh anak-anak, baik di
negara berkembang maupun di negara maju dan sudah mampu dan banyak
dari mereka perlu masuk Rumah Sakit karena penyakitnya cukup gawat.
Penyakit - penyakit saluran pernafasan pada masa bayi dan anak-anak dapat
pula memberi kecacatan sampai pada masa dewasa. Di mana ditemukan
adanya hubungan dengan terjadinya Chronic Obstructive Pulmonary
Disease.(Depkes RI.2000).
ISPA masih merupakan masalah kesehatan yang penting karena
menyebabkan kematian bayi dan balita yang cukup tinggi yaitu kira-kira
1 dari 4 kematian yang terjadi. Setiap anak di perkirakan mengalami 3-6
episode ISPA setiap tahunnya.
Penyakit ISPA, sering terjadi pada anak - anak, bahkan di negara-
negara berkembang. Penyakit ISPA ini merupakan salah satu penyebab
kematian tersering pada anak. Di sebabkan oleh infeksi saluran pernafasan
bawah akut (ISPA) paling sering adalah Pneumonia P2 ISPA balita
sebagai target penemuan penderita Pneumonia balita pertahun dihitung dari
jumlah penduduk usia balita pada suatu wilayah.
Secara teoritis diperkirakan 10 % penderita pneumonia akan
menigggal bila tidak diobati (depkes Ri, 1996) Sebagian besar kematian
tersebut di picu oleh ISPA bagian bawah (Pneumonia). Tetapi masyarakat
yang masih awam dengan gangguan itu.
Sebagian besar kematian tersebut dipicu oleh ISPA bagian bawah
(Pneumonia). Tetapi masyarakat yang masih awam dengan gangguan itu.
Penyakit ISPA dapat menyerang jaringan paru-paru dan penderita pun cepat
3


meninggal akibat Pneumonia berat, namun tidak cepat di tolong. Karena
memang akibat ketidaktahuan masyarakat tentang kelainan itu.
Pneumonia adalah proses akut yang mengenai jaringan paru-paru
(Alveoli). Terjadinya Pneumonia pada balita seringkali bersamaan dengan
proses infeksi akut bronkus (Broncho Pneumonia). Gejala penyakit ini
berupa nafas cepat dan nafas sesak, karena paru meradang secara mendadak.
Batas nafas cepat adalah frekuensi pernafasan sebanyak 50 kali permenit
atau lebih pada anak usia 2 bulan sampai kurang dari 1 tahun, dan 40 kali
permenit atau lebih pada anak usia 1 tahun sampai kurang dari 5 tahun.
Pada anak usia di bawah 2 bulan, tidak di kenal diagnosis Pneumonia.
Mengutip hasil survei kesehatan rumah tangga 1995 yang
melaporkan proporsi kematian anak akibat penyakit sistem pernafasan
adalah 2,1%, sementara pada balita 38,8%. Berdasarkan Program
Pembangunan Nasional (Propenas ) bidang kesehatan, angka kematian bayi
dari 5/1.000 pada tahun 2000 akan diturunkan menjadi 3/1.000 pada akhir
tahun 2005.
Di Sidomulyo ISPA merupakan salah satu penyebab utama
kunjungan pasien di Sarana Kesehatan. Pasien yang berobat ke Puskesmas
sebanyak 40-60 %. Kunjungan di bagian rawat jalan dan rawat inap Rumah
Sakit sekitar 15-20 %.
Hidup serumah dengan perokok juga menjadi faktor penyebab
penyakit ISPA anak. Hasil penelitian di sumedang jaw barat tahun 2001,
menyatakan bahwa 23% penyakit ISPA pada anak balita disebabkan oleh
pendeita hidup serumah dengan perokok.
4


Penyakit ISPA mencakup penyakit saluran napas bagian atas
(ISPA) dan saluran nafas bagian bawah (ISPA) beserta adneksanya. ISPA
mengakibatkan kematian pada anak dalam jumlah kecil, tetapi dapat
menyebabkan kecacatan misalnya stitis media yang merupakan penyebab
ketulian. Sedangkan hampir seluruh kematian karena ISPA pada anak kecil
disebabkan oleh infeksi saluran pernapasan bawah akut (ISPA), Paling
sering adalah pneumonia (WHO 2003). Kematian akibat pneumonia sebagai
penyebab utama ISPA di Indonesia pada akhir tahun 2000 sebanyak lima
kasus diantara 1.000 balita (Depkes, 2003).
Kejadian ISPA di wilayah Provinsi Gorontalo masih terhitung tinggi,
hal ini terlihat bahwa kasus ISPA sesuai data dari Dinas Kesehatan Provinsi
Gorontalo pada tahun 2009 sebanyak 28.322 kasus, dan khususnya di
Kabupaten.
Di Kabupaten Gorontalo jelas penderita ISPA tahun 2007 sebanyak
298 kasus, tahun 2008 terdapat 569 balita dan tahun 2009 sebanyak 610
kasus, laporan dari catatan medis di Puskesmas Sidomulyo tahun 2007
terdapat 198 kasus penyakit ISPA, Pada tahun 2008 terdapat 489 kasus
penyakit ISPA dan tahun 2009 terdapat 551kasus penyakit ISPA pada balita
di wilayah kerja Puskemas Sidomulyo Kabupaten Gorontalo Tahun 2009

5


B.
Perumusan Masalah
Bagaimana hubungan kejadian ISPA pada balita berdasarkan status
Imunsasi, pemberian ASI eklusif dan faktor lingkungan di wilayah Kerja
Puskesmas Sidomulyo Kabupaten Gorontalo Tahun 2009.
C.
Tujuan Penelitian
1.Tujuan Umum
Untuk mengetahui faktor - faktor yang berhubugan dengan kejadian
ISPA pada balita di wilayah Kerja Puskesmas Sidomulyo Kabupaten
Gorontalo Tahun 2009.
2.Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui hubungan status Imunisasi dengan kejadian ISPA
pada balita.
b. Untuk mengetahui hubungan pemberian ASI Ekslusif dengan
kejadian ISPA pada balita.
D.
Manfaat Penelitian
1.Manfaat Institusi
Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan masukan dan informasi
bagi Instansi terkait.
2.Manfaat Ilmiah
Sebagai bahan masukan dan informasi bagi pihak - pihak yang ingin
mengadakan penelitian lebih lanjut terhadap persoalan yang sama.
3.Manfaat Praktis
Penelitian ini merupakan pengalaman yang sangat berharga dalam
memperluas wawasan keilmuwan dan menetapkan upaya pencegahan.
6


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.
Tinjauan Umum Tentang Penyakit ISPA
1.Pengertian
ISPA merupakan singkatan dari Infeksi Saluran Pernafasan
Akut, mulai diperkenalkan tahun 1984 dalam lokakarya Nasional
ISPA di Cipanas. Istilah ini merupakan padanan istilah Inggris Acute
Respiratory Infection yang disingkat ARI. Dalam lokakarya
Nasional pertama tersebut ada dua pendapat. Pendapat pertama
memilih istilah ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) dan
pendapat kedua memilih istilah ISNA (Infeksi Saluran Nafas Akut).
Pada akhir lokakaryanya diputuskan untuk memilih istilah ISPA
dan istilah ini pula yang dipakai hingga sekarang (Depkes RI,
1998).
ISPA adalah Infeksi Saluran Nafas yang berkembang sampai
14 belas hari, yang dimaksud saluran nafas adalah organ mulai dari
hidung sampai alveoli paru beserta organ adueksanya (Sinus, Ruang
Telinga Tengah dan Pleura). (Widiastuti, 1989).
Berdasarkan lokasi anatomik (WHO, 2003).
a. Infeksi saluran pernapasan akut bagian atas (ISPAA) yaitu
infeksi yang menyerang hidung sampai epiglotis, misalnya
rhinits akut, taringitis akut, sinusitius akut dan sebagainya.
b. Infeksi saluran pernapasan akut bagian bawah (ISPBA)
7


dinamakan sesuai dengan organ saluran nafas mulai dari bagian
bawah epiglotis sampai alveoli paru, misalnya ; trakheitis,
bronkhitis, akut, pneumoni dan sebagainya.
2.Etiologi
Etiologi ispa terdiri dari 30 jenis bakteri, virus dan viketsia.
Bakteri penyebabnya antara lain dari genus streptokokus, hemofilus,
berdekella, dan karinebakterium. Virus penyebabnya antara lain
golongan miksovirus, aden virus, corona virus, pikornavirus,
mikoplasma, herpes virus.
Berdasarkan etiologi istilah infeksi saluran nafas akut
mempunyai 3 unsur yaitu infeksi, saluran pernapasan dan akut.
Pengertian atau batasan masing-masing unsur adalah sebagai
berikut :
a. Infeksi adalah masuknya kuman atau mikroorganisme
kedalam tubuh manusia dan berkembang biak sehingga dapat
menimbulkan segala penyakit.
b. Saluran pernapasan adalah organ yang dimulai dari hidung
hingga alveoli beserta adreksanya seperti sinus-sinus, rongga
telinga tengah dan pleura.
c. Infeksi akut adalah infeksi yang berlangsung sampai 14 hari.
Ini diambil untuk menunjukkan proses akut meskipun untuk
beberapa penyakit yang dapat digolongkan dalam ISPA, proses
ini berlangsung lebih dari 14 hari.
Dalam klasifikasi program P2ISPA Departemen Kesehatan,
8


untuk balita dibedakan menjadi non pneumoni dan bukan
pneumoni. Klasifikasi bukan pneumoni yaitu bentuk pilek biasa
(Common Cold), faringitis dan otitis. Untuk kelompok umur < 2
Bulan - < 5 Tahun. Klasifikasi dibagi atas pneumoni berat, pneumoni
dan bukan pneumoni. Untuk kelompok umur < 2 bulan klasifikasi
dibagi atas pneumoni berat bukan pneumoni.
Pneumonia adalah proses akut yang mengenai jaringan paru-
paru (Alveoli). Terjadinya pneumonia pada anak seringkali bersamaan
dengan proses infeksi akut bronkus (Bronchopneumonia).
3.Gejala
Gejala penyakit ispa berupa nafas cepat dan nafas sesak,
karena paru meradang secara mendadak. Batas nafas cepat adalah
frekuensi pernapasan sebanyak 50 kali permenit atau lebih pada
bayi usia 2 bulan sampai kurang dari 1 tahun, dan 40 kali
permenit atau lebih pada bayi usia 1 tahun sampai kurang dari 5
tahun. Pada bayi usia dibawah 2 bulan tidak dikenal diagnosis
pneumonia.
Pneumonia berat ditandai dengan adanya bentuk atau
(juga disertai) kesukaran bernapas, napas sesak atau penarikan
dinding dada sebelah bawah kedalam pada anak usia 2 bulan
sampai kurang dari 5 tahun. Pada kelompok usia ini dikenal juga
pneumonia sangat berat, dengan gejala bentuk, kesukaran bernapas
disertai gejala sianosis sentral dan tidak dapat minum. Sementara
untuk bayi dibawah 2 bulan, pneumonia berat ditandai dengan
9


frekwensi pernapasan sebanyak 60 kali permenit atau lebih atau
(juga disertai) penarikan kuat pada dinding dada sebelah bawah ke
dalam.
Klasifikasi bukan pneumoni mencakup kelompok penderita
dengan bentuk yang tidak menunjukkan gejala peningkatan
frekuensi napas dan tidak menunjukkan adanya penarikan dinding
dada kedalam, yaitu bentuk pilek biasa (common cold) faringitis,
tonsilitis, otitis.
Influenza / common cold biasanya terjadi dalam bentuk
pandemi. Virus penyebabnya adalah Rhinovirus, virus influenza A
dan B, parainfluenza, adenovirus, coronavirus, enterovirus. Disebut
commond cold bila gejala hidung lebih menonjol. Sedangkan
influenza dimaksudkan untuk kelainan yang disertai faringitis dan
tanda demam dan lesu lebih nyata. Penyakit ini biasanya sembuh
sendiri dalam 3-5 hari. Gambaran klinis penyakit ini mempunyai
gejala sistimatik yang khas berupa gejala infeksi virus akut yaitu
demam, sakit kepala, nyeri otot, nyeri sendi, dan nafsu makan
hilang, dan disertai dengan gejala lokal berupa rasa menggelitik
sampai nyeri tenggorokan. Kadang-kadang disertai batuk kering,
hidup tersumbat, bersin dan ingus encer, tenggorokan tanpak
hiperemi, didalam rongga hidung tanpak konka yang lembab dan
hiperemi, sekret dapat berupa seamukus atau mukoporulen bila ada
infeksi sekunder (Rasydah, 2204).
4.Penatalaksanaan
10