PENGHITUNGAN SUPLAI-DEMAND DALAM MENGHADAPI HARI-HARI BESAR ...

Text-only Preview

PENGHITUNGAN SUPLAI-DEMAND DALAM MENGHADAPI HARI-HARI
BESAR KEAGAMAAN NASIONAL UNTUK KOMODITI PETERNAKAN
KHUSUSNYA DAGING SAPI, DAGING AYAM DAN TELUR AYAM
Oleh :
Ir. Marta Wirawan
Fungsional Statistisi
Sekretariat Ditjen Peternakan
E-mail : [email protected]


Dalam menyambut hari-hari besar keagamaan Nasional hampir semua masyarakat
Indonesia merayakannya, mengingat mayoritas penduduk Indonesia adalah
penduduk yang beragama yang terdiri dari agama Islam, Kristen Katolik, Protestan,
Hindu dan Budha. Dengan kemajemukan masyarakat Indonesia memeluk agama
tersebut maka masing-masing agama mempunyai hari-hari besar keagamaan yang
dirayakan oleh pemeluknya. Perayaan hari-hari besar keagamaan tersebut tidak lepas
dengan kebutuhan akan konsumsi makanan yang salah satu bahan bakunya
bersumber dari komoditi ternak. Sebagaimana kita ketahui bahwa kebutuhan
makanan yang bersumber dari komoditi ternak pada umumnya jarang di konsumsi
secara rutin oleh masyarakat golongan bawah mengingat kebutuhan akan konsumsi
makanan yang berasal dari ternak khususnya daging sangat sulit dijangkau harganya
dan merupakan prestise bagi masyarakat yang mengkonsumsi.

Pada hari-hari besar keagamaan Harga komoditi ternak khususnya daging ayam,
daging sapi dan telur ayam tersebut terus merangkak naik. Permintaan kebutuhan
makanan tersebut meningkat tajam seperti terlihat pada perayaan keagaaman umat
muslim pada waktu menjelang puasa, diwaktu puasa, lebaran dan Idul adha dimana
harga tersebut naik secara tidak wajar. Kenaikan tersebut merupakan efek psikologis
dari pedagang yang juga ingin ikut merayakan hari-hari besar tersebut untuk meraup
keuntungan setahun sekali. Kenaikan tersebut hampir merata diseluruh propinsi
Indonesia karena mayoritas penduduk Indonesia hampir 80% adalah pemeluk agama
Islam yang tentunya membawa dampak kenaikan harga tersebut secara nasional di
Indonesia.

Perayaan lain yang membawa dampak terhadap kenaikan harga komoditi peternakan
adalah pada waktu hari Natal dan Tahun Baru yang selalu dirayakan oleh umat
Nasrani, sedangkan perayaan hari raya Imlek, galungan dan kuningan yang biasanya
dirayakan oleh umat Budha dan Hindu kurang membawa dampak yang significan
terhadap kenaikan harga komoditi tersebut.
Untuk mengantisipasi hal tersebut maka perlu dilakukan pemantauan, analisis dan
solusi terhadap gejolak kenaikan harga tersebut.

Ditjen Peternakan telah mengantisipasi kenaikan harga tersebut dengan melakukan
pemantauan terhadap stok ketersediaan komoditi ternak tersebut di tingkat produsen
atau peternak dalam mensuplai pemenuhan kebutuhan masyarakat yang terus
meningkat pada bulan-bulan menjelang hari besar keagamaan Nasional.

Dari hasil pemantauan dilapangan terhadap ketersediaan komoditi ternak dapat
dilakukan analisis besarnya kebutuhan yang dikonsumsi oleh masyarakat di suatu
wilayah tersebut.
Apabila dari sisi analisis penghitungan dari ketersediaan komoditi ternak sudah
mencukupi terhadap kebutuhan konsumsi masyarakat namun harga masih belum bisa
diredam kenaikannya maka ada factor non teknis yang mempengaruhi. Faktor non
teknis kemungkinan dipengaruhi oleh jaringan distribusi penyaluran kurang lancar
akibat kendala transportasi atau rantai pemasaran yang terlalu panjang.

Dalam menghadapi permasalahan tersebut diatas perlu dicarikan solusi yang tepat.
Upaya yang dilakukan pemerintah dalam mengatasi gejolak harga yang tidak
terkendali yaitu dengan memutus rantai pemasaran yang terlalu panjang atau dengan
jalan operasi pasar dengan menggelar pasar murah pada beberapa titik di pasar
sentral yang mudah diakses oleh masyarakat.

Untuk menjaga keseimbangan antara suplai (produksi) dengan demand (kebutuhan)
maka perlu juga dilakukan penghitungan dari sisi suplai (produksi).
Proses penghitungan Suplai akan komoditi tersebut selama ini yang dilakukan oleh
Ditjen Peternakan adalah berdasarkan laporan pemotongan yang bersumber dari
daerah yang direkapitulasi di tingkat kabupaten dan diakumulasi di tingkat propinsi
dan pusat menjadi data produksi ternak nasional.

Data produksi ternak nasional yang selama ini dimiliki oleh Ditjen Peternakan adalah
data produksi ternak tahunan melalui proses pertemuan validasi data peternakan
dengan seluruh propinsi di Indonesia. Untuk merinci (break down) data produksi
ternak bulanan dilakukan dengan pendekatan melalui data survey kebutuhan
konsumsi ternak yang dilakukan oleh BKP.
Survei yang dilakukan pada 9 komoditi Bahan Pokok makanan, 3 diantaranya adalah
komoditi ternak yaitu daging sapi, daging ayam dan telur ayam. Dari hasil survey
tersebut dihasilkan bahwa pada bulan-bulan tertentu menjelang perayaan keagaaman
seperti Puasa, Lebaran, Idul Adha, Natal dan Tahun Baru selalu terjadi peningkatan
kebutuhan. Dengan terjadinya peningkatan kebutuhan yang ada dimasyarakat
tentunya harus diimbangi dengan penyediaan atau suplai dari produksi ternak
tersebut. Proses penghitungan suplai dan demand komoditi ternak pada hari-hari
besar keagamaan khususnya untuk Puasa, Lebaran dan Idul Adha selalu dinamik
karena selalu terjadi perubahan yang menurut hitungan dari tahun ke tahun selalu
maju lebih cepat +12 hari, sedangkan untuk Natal dan Tahun Baru masehi tidak
mengalami perubahan atau statis yang biasanya dirayakan pada tanggal 25 Desember
dan 1 Januari.

Dari hasil survey yang dilakukan oleh BKP di kota-kota besar bahwa kebutuhan
untuk komoditi ternak selalu meningkat dari kondisi normal. Dari hasil survey
diperoleh bahwa untuk :

1. Bulan Puasa komoditi ternak khususnya daging sapi, daging ayam dan telur
meningkat sebesar 0,35; 0,76; dan 0,33 dari kondisi normal.

2. Bulan Idul Fitri untuk komoiti ternak khususnya daging sapi, daging ayam dan
telur meningkat sebesar 3,99; 2,48; dan 1,25 dari kondisi normal.
3. Bulan Natal untuk komoiti ternak khususnya daging sapi, daging ayam dan telur
meningkat sebesar 0,36; 0,76; dan 0,42 dari kondisi normal.
4. Tahun baru untuk komoiti ternak khususnya daging sapi, daging ayam dan telur
meningkat sebesar 0,36; 0,76; dan 0,42 dari kondisi normal.
5. Bulan Idul Adha untuk komoiti ternak khususnya daging sapi, daging ayam dan
telur meningkat sebesar 1,06; 0,63; dan 0,17 dari kondisi normal.

Dari hasil survey tersebut terlihat bahwa kebutuhan akan konsumsi 3 komoditi ternak
selalu meningkat dari kondisi normal hal ini berbanding lurus dengan penyediaan
akan produksi 3 komoditi ternak tersebut sehingga pada bulan bulan tersebut
produksi 3 komoditi tersebut harus mengikuti kenaikan dengan kebutuhan yang ada
dimasyarakat.
Pendekatan yang dilakukan untuk menghitung produksi bulanan adalah dengan
dengan cara membagi data tahunan produksi ternak dengan banyaknya bulan dalam 1
tahun namun pada bulan-bulan tertentu sesuai dengan hasil survey tersebut diatas ada
peningkatan jumlah produksi ternak maka perlu ditambahkan besarnya peningkatan
tersebut pada bulan-bulan tersebut dari kondisi normal.

Faktor-faktor lain yang mempengaruhi kebutuhan konsumsi komoditi ternak di
masyarakat diantaranya yaitu :
1. Pendapatan Penduduk disuatu wilayah (PDB/kapita) dengan data yang bersumber
dari BPS
2. Elastisitas pendapatan terhadap permintaan dan elastisitas harga terhadap
permintaan yang diperoleh dari penghitungan dengan mengolah data susenas
(survey social ekonomi nasional) publikasi BPS secara time series.
3. Jumlah Penduduk di suatu wilayah dengan data yang bersumber dari BPS.
4. Tingkat
konsumsi
masyarakat
disuatu
wilayah
(gr/kapita/hari
atau
kg/kapita/tahun) dengan data yang bersumber dari BPS.
5. Produksi Ternak dengan data yang bersumber dari Ditjen Peternakan.

Dari faktor-faktor yang mempengaruhi terhadap kebutuhan konsumsi komoditi ternak
disuatu wilayah maka dapat di lakukan penghitungan terhadap kebutuhan pangan di suatu
wilayah perbulan dengan rumus sebagai berikut :






Jumlah

Jumlah
Tingkat
Perubahan
Perubaha
Kebutuhan
Jumlah

Hari

Konsumsi

Tk Kons

Tk Kons
Pangan
Pddk
Dalam
Per Kapita
+
Karena
+ Karena
Daerah
=
X
X
Daerah
Satu
Per Hari
Pedapatan
Hari Raya
Per Bulan
Bulan
dr Susenas
& harga







Dari rumus tersebut diatas dapat diterjemahkan lebih aplikatif sehingga dalam
penghitungan kebutuhan komoditi ternak khususnya Daging Sapi, Daging Ayam dan
Telur Ayam dapat lebih rasional dan realistis sebagai berikut :

1. Dasar Penghitungan untuk Demand (Kebutuhan) komoditi ternak (daging sapi,
daging ayam dan telur ayam)

Yi nt = (1+ ∑ Kij) x ∑ Bn x ∑Pdt x
[Ki 2007+Ep i (Ki2007/P2007 x (Pt – P2007))+Eh i(Ki2007/Ht x (H nt –
Ĥt))]

Dimana :
Yi nt

= Kebutuhan konsumsi komoditas i pada bulan n Tahun t
∑ Bn

= Jumlah hari pada bulan n
Pdt

= Jumlah penduduk pada tahun t
(1+ ∑ Kij)
= Koefisien kenaikan penyediaan hari raya j untuk komoditas i
Ki 2007

= Tingkat konsumsi per kapita per hari komoditas i berdasarkan
Susenas 2007
Ep i

=Elastisitas pendapatan permintaan komoditas i
Eh i

=Elastisitas harga permintaan komoditas i
Pt

=Proyeksi tingkat pendapatan perkapita pada tahun t
P2007

=Tingkat pendapatan perkapita pada tahun susenas 2007
Ĥt

=Proyeksi tingkat harga rata-rata pada tahun t
H nt

=Proyeksi tingkat harga pada bulan n tahun t

2. Dasar Penghitungan untuk Suplai (produksi ternak daging sapi, daging ayam
dan telur ayam) dengan rumus sebagai berikut :

a. Produksi Daging Sapi & Daging Ayam
PD = K
X
St

PD = Produksi Daging
K = Berat Karkas
St = Jumlah Pemotongan

b. Produksi Telur
Pt
=
Po x p x pt

Pt
=
Produksi Telur
Po
=
Populasi unggas
p
=
Parameter betina produktif
pt
=
produktivitas telur unggas

3. Selisih dari perhitungan antara suplai (produksi ternak) dengan demand
(kebutuhan) adalah Gap (kesenjangan) yang harus mendapatkan solusi sebagai
dasar dalam mengambil kebijakan.




MAKALAH

PENGHITUNGAN SUPLAI-DEMAND DALAM MENGHADAPI HARI-HARI
BESAR KEAGAMAAN NASIONAL UNTUK KOMODITI PETERNAKAN
KHUSUSNYA DAGING SAPI, DAGING AYAM DAN TELUR AYAM


























SEKRETARIAT DIREKTORAT
JENDERAL PETERNAKAN