SINEMATEK TERPADU DI YOGYAKARTA

Text-only Preview











LANDASAN PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN
ARSITEKTUR



SINEMATEK TERPADU DI YOGYAKARTA




Diajukan untuk memenuhi sebagian
persyaratan guna memperoleh gelar
Sarjana Teknik




diajukan oleh :
JF Bina Anggraini
L2B 099 229




Periode 85
November 2003 - April 2004



Kepada

JURUSAN ARSITEKTUR FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS DIPONEGORO
2003




BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Film adalah media reproduksi informasi, media dari sebuah pesan yang ingin
disampaikan kepada masyarakat luas tentang gambaran, gagasan, informasi,
ungkapan atau ekspresi yang dapat dibicarakan, ditelaah sebagai wacana dari proses
gerak peradaban manusia.

Berangkat dari proses akulturasi seni (puisi, tari, teater dan novel) dan teknologi,
film merupakan bentuk semu dari kehidupan dengan symbol-simbol dan aktivitas
imajinatif juga kekuatan teknologi tercipta sebuah pesan yang menunjukan realitas
yang memberikan harmoni ataupun sekedar menghibur. Muatan kreaktif sebuah film
berkembang dari motivasi suaru pengertian-pengertian atau simbol-simbol yang
mempunyai konteks dengan lingkungan yang menerima.

Perfilman di Indonesia pada era 1970an mengalami masa jayanya dan kemudian
surut pada awal tahun 1990an. Hal ini disebabkan karena semakin dewasanya
masyarakat dalam menilai sebuah film. Menurutnya minat penonton terhadap film-
film nasional, disebabkan oleh tema film yang cenderung monoton dan didominasi
oleh tema tema seks, komedi dan musik dangdut. Selain itu, film-film lokal dibuat
hanya untuk mengejar keuntungan tanpa memperhatikan mutu dan kualitas film
tersebut. Sehingga masyarakat cenderung mengalihkan perhatian pada film-film luar
(film mainstream) dari pad film nasional Indonesia.

Namun proses bangkitnya pefilman Indonesia pada tahun 2002 ini memang
sangat terasa energinya. Terbukti dari setiap tahun itu saja terjadi peningkatan
produktivitas film setiap tahunnya walaupun sedikit. Tidak dapat dipungkiri bahwa
pemicu kebangkitan sinema Indonesia adalah film independen (Askurifai Baksin,
2003) dimana pertumbuhan produktivitas yang didominasi generasi baru perfilman
atau sineas muda, menjadi pelopor dan mendorong pertumbuhan atau bangkitnya
perfilman nasional. Dengan dimulai dari hadirnya beberapa film seperti Jelangkung,
Beth, Ada Apa Dengan Cinta, Ca Bau Kan atmosfer perfilman nasional mulai

menampakan kecerahannya. Film ini merupakan suatu film yang dihasilkan oleh
kalangan komunitas film yang bermodal nekat dan keterampilan cukup serta
kematangan berpikir.

Popularitas film independen semakin meningkat dengan diadakannya Festival
Film Independen oleh SCTV. Pada awal pendaftaran hingga April 2002, tercatat 746
judul film yang masuk ke panitia. Hal ini berarti begitu banyak peminat film
independen, meskipun mempunyai tema yang sederhana namun mempunyai nilai
sosial budaya yang cukup tinggi. Tema-tema yang sederhana memang dominan
dalam penggarapan film independen namun penafsiran yang berbeda antara satu
orang dengan orang lain menyebabkan sebuah tema menjadi beda bahkan berlainan.

Yogyakarta merupakan kota yang adaktif dan responsive terhadap perkembangan
seni dan budaya. Kota budaya yang memungkinkan berkembangnya proses apresiasi
seni masyarakat , khususnya film, hal ini terlihat dari banyaknya aktivitas di bidang
perfilman antara lain Pekan Film Eropa di Yogyakarta dan Internasional Art Film
Festival di Yogyakarta. Dengan komposisi penduduk berumur 20-24 tahun yang
cukup banyak terlebih lagi merupakan kota pendidikan dengan banyaknya fasilitas
universitas yang ada, masyarakat dikota ini dapat lebih bebas dan terbuka dalam
berekspresi dan berkreasi dalam dunia perfilman khususnya film independen atau
lebih dikenal dengan sebutan film indie.

Di kota Yogyakarta, komunitas film independen atau klib kreasi film biasa
bercokol di kampus-kampus ataupun institusi-institusi. Hanya masalahnya tidak di
organisasi secara baik dan cenderung berkolaborasi dengan beraneka seni lainnya.
Selain itu tidak semua peguruan tinggi mempunyai klub kreasi film. Lalu bagaimana
dengan para calon filmmaker yang ingin mengetahui lebih jauh baik tentang film,
proses pembuatannya, mengembangkan ide bahkan berdiskusi dan sebagainya.

Berdasarkan uraian diatas maka dibutuhkan suatu wadah perfilman sebagai pusat
kegiatan apresiasi dan eksplorasi film yang dapat memberikan informasi yang
komunikatif bagi masyarakat khususnya masyarakat Yogyakarta. Selain berfungsi
sebagai pusat komunikasi antar insan-insan perfilman seperti berupa kegiatan diskusi,
festival film, seminar, workshop, dan sebagainya, wadah ini juga nerupakan pusat
penyimpanan arsip-arsip perfilman, baik berupa film, bebda-benda film maupun

benda tercetak lainnya sehingga tetap terlestarikan dalam menunjang perkembangan
film nasional.

Dengan perkembangan yang ada, diharapkan wadah tersebut dapat menampung
kegiatan perfilman dan berperan dalam pelayanannya ditunjang oleh sarana dan
prasana yangf lengkap. Sehingga dibutuhkan wadah dengan pengelolaan modal yang
kuat bersifat profitable dalam pelaksanaan kegiatan-kegiatannya untuk perkembangan
pelayanan wadah tersebut.
Mengacu pada hal diatas maka perlu direncanakan dan dirancang sebuah
bangunan Sinematek Terpadu di Yogyakarta guna menampung kegiatan yang tidak
hanya berkaitan dengan apresiasi semua jenis film tetapi juga tuntunan fungsi
pemutaran film, ruang workshop, perpustakaan, ruang seminar, dan sebagainya untuk
tujuan pendidikan, penelitian dan hiburan guna meningkatkan apresiasi masyarakat
serta perkembangan film nasional.

B. Tujuan dan Sasaran

Tujuan dari pembahasan ini adalah menggali, menelaah, dan meumuskan potensi
dan permasalahan yang berkaitan dengan perencanaan dan perancangan Sinematek
Terpadu di Yogyakarta sebagai sarana perfilman dan fasilitas penunjang akan seni
buday di kota Yogyakarta tersebut dengan dilengkapi fasilitas pelengkap.

Sedangkan sasaran dari pembahasan ini adalah menyusun landasan konseptual
program perencanaan dan perancangan arsitektur Sinematek Terpadu di Yogyakarka
dengan penekanan desain Richard Meier.

C. Manfaat

Manfaat subyektif dari pembahasan ini adalah sebagai pedoman perancangan
grafis Sinematek Terpadu di Yogyakarta dan untuk melengkapisebagian persyaratan
untuk mencapai gelar Sarjana Teknik pada Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik
Universitas Diponegoro semarang.
Sedangkan secara obyektif, pembahasan ini duharapkan dapat menambah
wawasan penetahuan baik mahasiswa arsitektur dan kalangan arsitek, maupun pihak
lain yang membutuhkan.


D. Lingkup Pembahasan
Lingkup
pembahasan
mencakup
permasalahan-permasalahan yang berkaitan
dengan Sinematek terpadu di Yogyakarta, kaitannya dalam disiplin ilmu arsitektur,
dengan tidak menutup kemungkinan pembahasan dari disiplin ilmu lain sejauh
mendukung dan berkaitan dengan proses perencanaan dan perancangan.


E. Metode Pembahasan

Metode pembahasan yang diterapkan adalah metode deskriptif analitis, yaitu
metode pembahasan dengan memaparkan, baik data literatur, wawancara, maupun
data lapangan, yang digabungakn dan dianalisa untuk memperoleh rumusan yang
mendukung tujuan pembahasan.

Untuk mendapatkan data-data, baik dat primer maupun data sekunder yang
mendukung dan relevan untuk penyusunan perencanaan dan perancangan Sinematek
terpadu di Yogyakarta ini, maka metode pengumpulan data yang digunakan adalah:
a)
Studi literature / kepustakaan, yaitu metode pengumpulan data maupun peta
dari sumber-smber yang terkait dan tertulis.
b)
Survei dan dokumentasi, yaitu metode pengumpulan data dengan
pengambilan gambar-gambar dan pengamatan secara langsung dilapangan.
c)
Wawanca, dilakukan dengan nara sumber terkait.

F. Sistematika Pembahasan

Sistematika pembahasan dalam Landasan Program Perencanaan dan Perancangan
Sinematek Terpadu di Yogyakarta ini adalah sebagi berikut.

BAB I
PENDAHULUAN
Berisi tentang latar belakang pembahasan, tujuan dan sasaran
pembahasan, manfaat pembahasan, lingkup pembahasan, metode
pembahasan, dan sistematika pembahasan.


BAB II
TINJAUAN SINEMATEK TERPADU
Berisi teori-teori dan tinjauan mengenai jenis film dan
pendistribusiannya kepada masyarakat, tinjauan apresiasi film
untuk memahami kegiatan dan wadah apresiasi film serta studi
banding.
BAB III
TINJAUAN SINEMATEK TERPADU DI YOGYAKARTA
SEBAGAI DAERAH PERENCANAAN

Berisi kajian tentang tinjauan kota Yogyakarta, budaya dan
masyarakat Yogyakarta, potensi dan pendukung keberadaan
Sinematek terpadu sebagai wahana apresiasi film di Yogyakarta.
BAB IV
KESIMPULAN, BATASAN DAN ANGGAPAN
Mencantimkan
tentang
kesepakatan-kesepakatan yang diperoleh
dari bab sebelumnya yang bertujuan agar landasan program
perencanaan dan perancangan yang tersusun lebih terarah dan tidak
melebar.
BAB V
PENDEKATAN
PROGRAM PERENCANAAN DAN
PERANCANGAN

Berisi tentang alternatif pemecahan masalah yang berkaitan
dengan obyek perencanaan serta analisa yang berkaitan dengan
konsep arsitektural yang sesuai untuk memperoleh pendekatan
yang dapat memecahkan masalah yang perencanaan dan
perancangan.
BAB
VI PROGRAM DASAR PERENCANAAN DAN
PERANCANGAN ARSITEKTUR

Berisi tentang konsep dasar perencanaan dan perancangan,
program ruang yang dibutuhkan sebagai acuan pada tahapan desain
grafis serta tampak terpilih.